Surabaya— Apa jadinya jika semangat sosial, kreativitas, bertemu dalam satu titik? Kampung Batik Okra Yang terletak di Kelurahan Kranggan, Surabaya, adalah jawabannya. Berawal dari krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 pada tahun 2020, seorang purnawirawan militer yang biasa dipanggil Pak Sonny, kini menjabat sebagai Ketua RW mengubah tantangan menjadi peluang lewat gerakan membatik bersama warga.
![]() |
| Galeri Kampung Wisata Batik Okra |
“Awalnya saya hanya ingin warga tetap produktif saat lockdown,” ujar Pak Sony. “Saya ajukan pelatihan membatik ke kelurahan, lalu disetujui dan difasilitasi Pemerintah Kota Surabaya. Dari situlah awal mula lahirnya Kampung Batik Okra.”
Nama “Okra” mengandung makna singkatan dari Orang Kranggan, sekaligus merujuk pada tanaman okra yang kini menjadi ikon kampung dan sumber inspirasi utama dalam desain motif batik. Tanaman ini juga dibudidayakan sebagai bagian dari identitas lokal.
![]() |
| Motif “Okra” pada Batik Okra |
Sejak diresmikan oleh Wali Kota Surabaya pada 28 Desember 2022, Kampung Batik Okra berkembang menjadi sentra batik tulis dengan sistem produksi berbasis tim. Saat ini, sekitar 15 warga aktif terlibat dalam proses produksi, mulai dari pewarnaan, penjahitan, pencantingan, hingga pengarsipan desain. Seluruh proses dilakukan secara manual, menjadikan batik Okra sebagai produk bernilai tinggi dengan karakter eksklusif.
Meski baru berjalan dua tahun, batik Okra telah menembus pasar nasional dan internasional. “Konsumen kita dari Jakarta, Makassar, Lampung, sampai Jerman, Australia, dan Afrika. Mereka tahu dari Google,” ungkap Pak Sony. Banyak dari mereka yang datang langsung ke kampung setelah menemukan profil Kampung Batik Okra secara daring.
![]() |
| Beberapa Karya Hasil Pelatihan Batik Okra |
Lebih dari sekadar sentra produksi, Kampung Batik Okra kini dikenal sebagai destinasi wisata edukatif. Ratusan pelajar, mahasiswa, hingga tamu internasional dari Filipina, Brunei, dan Mesir pernah mengikuti lokakarya membatik di sini. Edukasi budaya juga diperluas melalui program rutin bersama Forum Anak serta pelatihan membatik saat masa liburan sekolah.
Dampaknya terasa langsung ke perekonomian warga. Selain memberikan tambahan penghasilan bagi para pembatik, dampak lainnya turut dirasakan oleh pelaku UMKM sekitar, seperti pedagang makanan dan jasa jahit. Secara sosial, kampung ini berhasil menghidupkan semangat gotong royong dan memberdayakan berbagai lapisan masyarakat.
Dengan pengelolaan yang masih sepenuhnya mandiri, Pak Sony berharap ada mitra yang dapat mendukung pengembangan fasilitas, termasuk galeri batik dan infrastruktur wisata. Dari kampung yang dulunya biasa saja, RW 01 Kranggan kini menjadi contoh inspiratif bagaimana kepemimpinan inklusif dan inovasi berbasis komunitas dapat menggerakkan ekonomi lokal sekaligus mengangkat identitas budaya ke tingkat global.
Penulis : Ceysha Aurellia R.


